posted by on Sidta, Tri, Weekend

2 comments

Jum’at malam kemarin, saya mention Bapak @iskan_dahlan sambil nahan air mata,

@iskan_dahlan, stasiun depok rusuh pak. 2 krl mogok dan penumpang berebut kursi. banyak diantaranya ibu2 bawa bayi

Satu setengah jam sebelumnya, semua masih aman-damai-sentosa.

Saya turun dari commuter line Bogor pukul setengah delapan. Mas Tri naik dari Sudirman dan saat itu sudah di Manggarai. Di situasi normal, saya akan memilih pulang duluan naik angkot. Tapi, pria yang sedang kita bicarakan ini sudah 4 hari pulang-di-tengah-malam dan berangkat lagi pukul setengah enam pagi. Jadi, bolehlah ia ditunggu …

Untuk membunuh kebosanan, saya baca The Lost Symbol. Di dekat saya,ada seorang wanita muda dengan outfit nuansa merah sedang mengelus-elus bayi di gendongannya.

Beberapa puluh menit kemudian,

“Ekonomi depan mogok mah, ini masih di UP …”

andai mbak baju merah mendengar berita ini, tapi dia sibuk nidurin bayi.

Pasangan romantis di dekat kami akhirnya nggak tahan untuk nggak ngasih saran, “Mending pulang duluan mbak, suruh naik angkot aja ntar suaminya … ”

Huhu … pada belum nyadar ya kondisinya gimana. Liat itu petugas pengamannya udah pada siaga.

Waktu yang dihabiskan untuk nunggu Pak Suami saat itu : 1 jam 45 menit.

KRL ekonomi yang mogok akhirnya merayap pelan ke Stasiun Depok. Disusul kereta ekonomi belakangnya, yang akhirnya ikutan mogok.

Saya pergi dari peron jalur empat demi melihat besi penghubung KRL dengan kabel diatasnya menyala dan ratusan penumpang melompat turun ke peron. Karena terakhir kali mengalami peristiwa seperti ini, saya lagi gendong Asa, dan persis saat kami melewati pemeriksaan karcis, penumpang yang tak terangkut melempari kereta dengan apapun yg mereka pegang.

Mana mbak-mbak bawa bayi tadi ? Saya tidak melihatnya, tapi miris membayangkan ia di situasi gila ini.

Saya dan beberapa orang menunggu di depan Indomaret. Sentinel guard sibuk menyuruh kami menjauh agar selamat kalau ada adegan lempar-lemparan. Dua KRL yang tadinya penuh sampai ke atap teronggok di jalur 3 dan 4. Ratusan (atau ribuan?) orang yang sudah kelelahan menyerbu ke jalur dua menunggu commuter line yang akan masuk. Mbak itu harus berebut dengan mereka untuk masuk ke kereta … sendirian, gendong bayi. Oh, nggak sendirian ding … karena yang bawa bayi bukan cuma dia!

Oke, PT KAI, mungkin tarif anda memang yang paling murah. Ngomong sendiri ya sama bayi-bayi itu ….

Pengen ngomel panjang lebar, tapi kemunculan pria itu berhasil membuat saya adem. Dia sudah telat pulang empat hari, tapi kini berdiri di depan saya tanpa benjol sama sekali.

Malam itu, daripada beli teh ,  saya memilih sebotol Lemon Water, untuknya :)

Memilih Play Group

Apr
2012
20

posted by on Asa

6 comments

Ini tahap perkembangan Asa yang paling membuat perasaan saya campur aduk. Masuk sekolah.

Di satu sisi, saya hanya ingin sesuatu yang mendasar. Sebuah sekolah sederhana, yang kecil tapi hangat, dekat dari rumah, dengan teman-teman dan guru yang juga merupakan tetangga sekitar rumah kami. Ini adalah bagian dari keinginan saya memberikan sebuah kampung halaman untuknya. Menjalin akar yang saling terkait dengan lingkungan terdekat, menyimpulnya dengan kuat, menjadikannya sarang.

Suatu saat nanti, dia pasti akan pergi. Entah SD, SMP, kuliah. Tapi saat itu, kapanpun dia ingin pulang, jalinan akar itu semoga akan menyambutnya dengan hangat, dari pos satpam sampai deretan rumah di blok sebelah.

Gimana tentang bahasa pengantar, bahasa Inggris, montessori, multiple intelegence, kedisiplinan dan segala keyword pencarian sekolah lainnya ? yah, mungkin keluarga kami memang tidak berasal dari abad ini. Kami belum menganggap penting semua keyword itu di tahap ini, ketika sekolah hanya tiga hari seminggu dan durasi rata-rata hanya 1,5-2 jam. Lagian, nggak ada kali play group yang sengaja mendidik anak untuk jadi malas dan jahat.

Belum menganggap penting, yang bener ?

Nggak juga. Namanya juga moderator TUM , tiap hari harus baca pendapat ibu-ibu tentang sekolah beserta referensinya. Bohong kalau nggak terpengaruh. Yang ada saya menghabiskan waktu berbulan-bulan gugling, mencari dan membandingkan. Alhamidiyah, Sekolah Alam Depok, Sabda Alam School (banyak banget ya sekolah di Sawangan-Cinere).

Namun tetep ya, kata hati juga yang menang. Maka disuatu pagi yang cerah, setelah mendandani anak itu dan menjejali perutnya dengan dua potong pancake, dan diiringi potongan 5% tunjangan, kami berdua jalan kaki ke playgroup deket rumah.

Kesan pertama, duh kok gini banget ya fasilitasnya, kayak sekolah di kampung (lah emang). Baru mengucap salam, tanpa mengutarakan maksud kami, ibu guru sudah menyambut Asa, “Namanya siapa ? Oh, Asa ya … sini-sini …” dan dengan ceria diumumkanlah ke kelas, “Ada temen baruuu …”

Dan disanalah sang putra pertama, untuk pertama kalinya ikut ‘belajar’. Nggak pakai nangis, nggak pakai acara lempar mainan dan teriak, “Asa nggak bisa!” .

Melongo loh mamanya liat dia telaten nyocok-nyocokin bentuk, dan bangga banget waktu dia bisa cerita ke bunda gurunya, “Ini kapal, ini angka tujuh, ini bulan sabit, ini kelincinya makan wortel.” . Melepas sepatu sendalnya sendiri dan meletakkannya dengan rapi di rak, mengucap salam waktu mau masuk kelas.

Tadinya saya kira, proses pendaftaran dan trial ini akan berlangsung dengan sedikit kesan formal. Tapi nggak gitu ternyata. Yang terjadi justru saya lesehan di tangga, ngobrol sama bunda gurunya dan cerita panjang lebar tentang si bocah. Sementara Asa masih asyik main di dalam (padahal temen-temennya udah pulang semua)

Nggak tahu kenapa, perasaan saya jadi hangat dan semua keragu-raguan hilang.

Hari itu, saya menerima banyak uluran tangan untuk membantu mengasuh Asa.

dan kami pulang membawa formulir :)

Rebelling Period

Apr
2012
18

posted by on Sidta

2 comments

Saat dia tambah pinter,

Mandi

“Asa ayo mandi ..”

“Nggg … Nggak!”

“Eh kok nggak, mandi yok udah siang nih.”

“Asa udah mandi … ” katanya ngotot, “Kemaren, JAM LIMA.”

-

Ngompol

Yah, namanya bocah ya. Udah lulus toilet training sebenernya, 100%. Udah berbulan-bulan nggak beli diaper. Entah kenapa suatu hari dia bangun super kesiangan dan kasurnya basah.

Mbaknya laporan dong waktu mamah pulang kerja, “Tadi pagi ngompol ..”

Si bocah nggak terima, “Nggak, Asanya nggak ngompol …”

Mamah, “Lah ini kenapa pesing, kalau bukan Asa siapa dong yang ngompol?”

Ayah.” Si bocah tampang innocent menjawab,

“Asanya kan pipis kamar mandi, sama mamah ..”

Didengar oleh sang Ayah yang lagi nyukur jenggot sambil mengernyit …

-

Susu Sapi

Karena udah makin gede, konsumsi susu menurun drastis. Jadinya udah nggak pernah lagi beli literan. Belinya kotak-kotak kecil sesuka dia deh ambil merek apa waktu belinya. Milihnya berdasarkan gambar, kan ada mickey, donald, sapi, gajah dsb.

Ini adegan beberapa malam yang cuma bisa terjadi kalau ayah ada di rumah.

“Mau susu miki mos.”

Ayah kucluk-kucluk ngambil. Pas balik, anaknya berubah pendirian “Engg … susu sapi saja.”

“Susu sapinya abis asa ..”

“Huaa, mau susu sapi.”

Sekeluarga berangkat ke indomaret terdekat nyari ultra biru.

Sampai rumah, “Susu stroberi ajaaa.”

“Yaaah kan abis Asa, kenapa nggak minta waktu di Indomaret aja sih.”

-

Bikin kesel yah ? :D , tapi ini kan milestone yang mesti disyukuri. Jadi ngakak ajalah ..

Punya masalah sejenis, sila curhat disini yah *ngiklan

posted by on Sidta

No comments

There’s something deeper going on in family life than can ever be expressed on a social network

April Perry

Hari ini, membuka facebook untuk mengucapkan selamat pada saudara sepupu yang baru lamaran, dan adik yang sedang galau karena ujian nasional.

Lalu, nemu link artikel ini : Your Children Want YOU !

Nonjok ya, baca judul seperti itu jam segini, sedang piket, sudah lewat jam enam tapi masih harus jaga di kantor. Dengan kenyataan bahwa hari ini Mas Tri juga akan pulang sangat terlambat.

Tapi saya salah, artikel itu bukan tentang working mom dan segala kekurangan waktunya :) , baca aja ya …

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.